in

Mengemis di Jalanan, Menyusuri Takdir yang Pahit

Susah dapat pekerjaan dengan kondisi seperti saya ini. Terpaksa begini (mengemis).” — Daeng Jaling, 45 Tahun, Pengemis.

CakapCakap – Tak ada seorang pun di dunia ini yang ingin dilahirkan sebagai pengemis jalanan. Hanya berharap kemurahan hati para dermawan mengulurkan tangan dengan recehan atau lembaran rupiah.

Namun, apalah daya. Takdir yang pahit itu harus dijalani oleh Daeng Jaling. Kondisi fisiknya yang tak sesempurna yang lain karena menderita kusta, memaksanya untuk mengemis demi menghidupi dirinya sendiri.

Foto: Muizzu Khaidir/CakapCakap

Pria 45 tahun yang tinggal di perkampungan Kusta, Jalan Dangko Makassar ini mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan sejak menderita kusta. Ia merasa tak ada yang bisa menerima dirinya. Mau tak mau, ia akhirnya harus berjuang mendapatkan rupiah demi rupiah dengan mengemis.

“Susah dapat pekerjaan dengan kondisi seperti saya ini. Terpaksa begini (mengemis),” ucap Daeng Jaling lirih kepada CakapTeam, April 2019 lalu di Jalan Hertasning Makassar.

Mengemis bukan pilihannya. Dari tempat tinggalnya di perkampungan Kusta Dangko, Daeng Jaling biasanya menuju wilayah operasinya dengan menggunakan jasa ojek kendaraan motor yang ia bayar Rp30.000 pulang pergi. 

Foto: Muizzu Khaidir/CakapCakap

Setibanya di Jalan Toddopuli atau Jalan Hertasning, Daeng Jaling duduk di sebuah papan berbesi yang diberi roda, menopang tubuhnya untuk bisa bergerak dan berjalan menyusuri titik-titik jalan dan lampu merah. Mengenakan caping untuk melindungi dirinya dari sengatan matahari dan sebuah gayung warna hijau untuk menampung setiap rupiah yang diterimanya. Sungguh miris melihatnya mengemis.

Terkadang, pria dengan enam anak ini terlihat lelah mengayuh papan rodanya sebagai pengganti kakinya yang sudah tak utuh pada bagian kanannya. Namun, ia tak lelah dan sabar hanya untuk sekedar mendapatkan uluran tangan dari orang-orang yang melintas di jalan raya. Dari hasil mengemisnya seharian, Daeng Jaling biasanya mengumpulkan paling banyak Rp100.000.

Foto: Muizzu Khaidir/CakapCakap

Bersyukurnya, mengemis bukan jalan satu-satunya sumber kehidupannya. Daeng Jaling mengaku masih mendapatkan bantuan sebesar Rp125.000 setiap bulan dari pemerintah. Meski rasanya tak mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia mengaku bersyukur dengan apa yang didapatkannya.

Ya. Bersyukurlah untuk setiap hal yang terjadi padamu. Daeng Jaling hanyalah sebuah potret “kemiskinan”, takdir pahit yang ia bungkus dengan rasa syukur tak berkesudahan, meski hanya dengan mengemis, menanti kebaikan hati sang dermawan.

Foto: Muizzu Khaidir/CakapCakap

Begitulah takdir! Syukuri segala keadaanmu. Nikmatilah! Sesuatu yang besar sedang menunggumu. “Develop an attitude of gratitude, and give thanks for everything that happens to you, knowing that every step forward is a step toward achieving something bigger and better than your current situation.” — Brian Tracy.


Jurnalis: Muh. Resky Ariansyah

Penulis: Siti Nurhajaiti Sunarto

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Comments

0 comments

Setelah ‘Avengers: Endgame’, Bakal Ada ‘The Eternals’ dari Marvel!

Aneka Resep Es Kelapa Muda Ini Patut Dicoba, Dijamin Bikin Seger!