in

Hidup di Jalanan Karena Tak Punya Keluarga, Becak Motor (Bentor) dan Sampah Jadi Sandarannya

Saya hanya tinggal di bentor (becak motor) karena tidak punya rumah, makan di warung pinggir jalan satu kali dalam sehari. Dulu ada istri yang rawat tapi sekarang sudah cerai. “ -Iwan, 56 tahun, pemulung sampah-

CakapCakap – Sosok lelaki tua ini hidup sebatang kara. Ia melanjutkan hidupnya di jalanan. Orang bilang tempat pulang dan tempat segala kebahagiaan terbaik adalah rumah. Namun apa daya, takdir membawanya hanya bisa hidup di pinggir jalan bersama dengan bentor (becak motor) yang ia sewa demi sesuap nasi untuk dirinya.

Ia tak memiliki keluarga dan harus memikul beban deritanya sendiri, tak ada tempat untuk bersandar dan mencurahkan segala kepenatan hidup yang telah ia alami.

Pak Iwan biasa memulung sampah di kawasan Antang dan Samata, Gowa. (Foto : Suhrawapil)

Iwan, 56 tahun, adalah seorang duda Asal Bili-Bili, Gowa, Sulawesi Selatan. Ia yang hidup sebagai buruh bentor sekaligus pemulung sampah. Setiap hari ia harus bergegas secepat mungkin untuk mengais sampah plastik di setiap tumpukan yang ada di kawasan Antang-Samata.

Hasil memulung hari itu dijualnya untuk membeli makanan pada siang nanti dan juga untuk membayar separuh harga bentor yang ia sewa. Harga bentor yang disewanya sebesar Rp25.000 cukup mahal karena tidak sesuai dengan hasil pendapatan setiap harinya.

“Saya hanya tinggal di bentor karena tidak punya rumah, makan di warung pinggir jalan satu kali dalam sehari. Dulu ada istri yang rawat tapi sekarang sudah cerai,” ucap Iwan.

Ilustrasi : sampah. (Foto : Pixabay)

Sungguh malang nasib sang bapak. Ia bercerita tentang dirinya yang seorang tukang bentor dan pemulung sampah ini, yang tak bisa memilih Presiden dan Calon legislatif sebab tak punya kartu tanda penduduk dan tidak punya kartu untuk memilih.

Namun, ia berdoa agar siapa pun yang terpilih nantinya mampu memberikan kehidupan yang layak untuknya. Membantu agar dirinya bisa bekerja, dan mendapatkan penghasilan yang cukup untuk kehidupan sehari-harinya.

Terik matahari dan hujan tak pernah menghalangi jalan kehidupannya untuk terus bekerja sebagai tukang bentor dan pemulung sampah. Tak heran jika diseluruh pelipis pipinya lebam terbakar matahari, kerut didahinya mulai terlihat dan pakaian yang lusuh tertempel nyaman di tubuhnya.

Ilustrasi : Becak Motor (Bentor). (Foto)

Banyak orang yang selalu meremehkan kehidupan pemulung, tapi siapa sangka seorang pemulung bisa membantu membersihkan area yang dipenuhi dengan sampah plastik yang akan didaur ulang untuk perekonomian. Jangan menilai seseorang dari segi pekerjaannya tapi lihatlah dari apa yang telah ia perjuangkan untuk hidup.

Hidup tak selamanya selalu berada di zona yang aman dan nyaman. Bisa saja zona aman itu menjadi tak aman lagi, dan hidup yang mewah itu bisa saja menjadi melarat. Dalam menjalani hidup harus dinikmati, sekeras apa pun kehidupan, jika dinikmati dan disyukuri pasti akan menjadi berkah.

Seorang Fred De Witt Van Amburgh pernah mengatakan bahwa tidak ada yang lebih miskin daripada orang yang tidak memiliki rasa syukur. Rasa syukur adalah mata uang yang dapat kita ciptakan untuk diri kita sendiri, dan menghabiskannya tanpa takut mengalami kebangkrutan. Syukurilah setiap detik kehidupanmu.

Penulis : Suhrawapil (Mahasiswi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Jurnalistik-UIN Alauddin Makassar)

Editor : Siti Nurhajaiti Sunarto

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Comments

0 comments

Ketika Sandiaga Uno Dilamar Wanita Cantik Saat Kampanye, Apa Jawabannya?

Hati-Hati! Olahraga Berlebihan Ternyata Juga Tak Baik untuk Tubuh, Kenali Tandanya!