in ,

Mengenal Kapsul Waktu ‘Avengers’ di Papua, Tempat Penyimpanan Lembar Cita-Cita Masyarakat Indonesia

Kapsul Waktu diyakini sebagai simbol kepedulian pemerintah untuk memulai pembangunan daerah tidak hanya di Pulau Jawa namun dari wilayah terluar Indonesia.

CakapCakapCakap People! Hampir setahun usia Monumen Kapsul Waktu yang dibangun di Merauke, Papua. Salah satu sebab monumen ini cukup tenar, karena desain yang diciptakan cukup mirip dengan logo Avengers.

Monumen Kapsul Waktu. [Foto: HAN Awal & Partner Architect]

Ya, Avengers merupakan salah satu cerita komik buatan Marvel melingkupi sejumlah manusia super. Namun kapsul waktu tersebut tidak menjadi markas Captain America dan kawan-kawan. Bagunan itu merupakan markas bersemayamnya cita-cita masyarakat seluruh provinsi di Indonesia.

Bangunan ini awalnya dirintis sejak 2015 oleh pemerintah melalui Gerakan Nasional 70 Tahun Indonesia Merdeka (G70). Kemudian pada 16 November 2018 bangunan ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

Monumen Kapsul Waktu. [Foto: HAN Awal & Partner Architect]

Seluruh daerah mulai dari Sabang hingga Merauke menulis butir cita-cita yang diharapkan tercapai dalam 70 tahun mendatang. Kapsul Waktu diyakini sebagai simbol kepedulian pemerintah untuk memulai pembangunan daerah tidak hanya di Pulau Jawa namun dari wilayah terluar Indonesia.

Yori Antar Awal, Principal Architect dari firma HAN Awal & Partners Architect yang menangani proyek tersebut mengatakan pembangunan monumen itu telah dimulai ground breaking sejak 28 Desember 2015. Namun karena tersangkut persoalan pembebasan lahan, pembangunan akhirnya mundur dan dimulai sejak 1,5 tahun lalu.

Menurutnya, Monumen Kapsul Waktu telah didesain dengan mengusung konsep tombak dan tameng. Keduanya merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat adat Papua. Hal ini diaplikasikan dalam dua bangunan berbentuk tombak dengan bangun horizontal dan melingkar sebagai bentuk tameng atau pertahanan.

Monumen Kapsul Waktu. [Foto: HAN Awal & Partner Architect]

Tinggi bangunan di bagian tengah tidak lebih dari 15 meter. Alasannya menghindari gangguan bagi pesawat terbang yang melintas di area itu. Yori menggunakan angka-angka unik sebagai luasan desain bangunan. Mulai dari tinggi 8 meter, panjang 45 meter dan lebar 17 meter pada bangunan ini. Makna yang diambil adalah peringatan hari kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Bangunan tersebut berbentuk memanjang dengan anak tangga sebagai jalan menuju ke puncak. Ujung bangunan sengaja dibuat agak menjorok ke depan sebagai wadah untuk menempatkan kapsul waktu yang akan dibuka pada 17 Agustus 2085.

Puncak monumen disebut sebagai Watching Tower, tempat penyimpanan 37 kapsul waktu. Kapsul tersebut ditempatkan pada sebuah wadah besi berbentuk seperti telur dan dikelilingi oleh tiang-tiang seperti mahkota menara Kayou, Papua.

Monumen Kapsul Waktu. [Foto: HAN Awal & Partner Architect]

Di bawah bangunan, tampak lima celah terbuka dari kiri hingga kanan. Lima lubang tersebut dimaknai sebagai simbol Pancasila yang dianut dalam ideologi kebangsaan masyarakat Indonesia.

Di sisi kiri dan kanannya, dua jalan perlintasan dibuat berdekatan dengan bangunan di sisi tengah. Tanpa disadari sebelumnya, bangunan ini kian mirip simbol Avenger. Akan tetapi menurut Yori, desain itu sudah dilakukan jauh sebelum adanya film Avenger di layar lebar.

Monumen Kapsul Waktu. [Foto: HAN Awal & Partner Architect]

Filosofi Tombak dan Tameng

Sementara itu, bangunan berkonsep tombak tersebut dikelilingi oleh bangunan melingkar. Dia menyebut inspirasinya berasal dari tameng atau alat pertahanan masyarakat nusantara. Tameng tersebut dibuat agak tinggi mengimbangi bangunan di tengah.

Pada bangunan melingkar, dia sengaja membangun lintasan dari bawah ke bagian atas bangunan. Pengunjung akhirnya dapat melihat pemandangan menarik kotanya dari bagian tertinggi monumen itu. Sekaligus melihat bangunan tengah dari kapsul waktu.

Di luar bangunan melingkar, arsitek menempatkan 7 lingkaran kecil melambangkan 7 wilayah adat di Bumi Cenderawasih tersebut. Tujuh wilayah adat yaitu Mamta di Papua Timur Laut, Saireri di Papua Utara atau Teluk Cenderawasih dan Domberai di Papua Barat Laut. Sisanya yaitu wilayah adat Bomberai di Papua Barat, Anim Ha di Papua Selatan, La Pago di Papua Tengah dan Meepago di Papua Timur.

Monumen Kapsul Waktu. [Foto: HAN Awal & Partner Architect]

“Setiap wilayah akan diisi satu benda seperti patung. Kami juga berharap bangunan ini bisa menjadi living culture masyarakat setempat,” kata Yori kepada BISNIS belum lama ini.

Saat ini pembangunan Monumen Kapsul Waktu baru sampai di tahap pertama yaitu pengerjaan fisik. Tahap kedua adalah memasukan beberapa relief sebagai pengayaan makna Pancasila dan sejarah kemerdekaan.

Semula monumen ini akan dibangun di daerah persawahan di Papua. Dia dan tim sempat menyiapkan konsep yang diinginkan dengan bangunan menjorok ke dalam bangunan tanah. Di bagian tengah akan dipancarkan cahaya hologram Presiden dan Wakil Presiden pertama, Soekarno – Hatta.

Namun setelah berunding dengan tim G70, arsitek mencari lokasi lain. Tiga lokasi yang diberikan oleh Bupati Merauke sebelumnya juga jauh dari keramaian. Padahal bangunan bisa menjadi salah satu ikon kota serta bisa menjadi ruang terbuka hijau.

Monumen Kapsul Waktu. [Foto: HAN Awal & Partner Architect]

“Kami kemudian memilih wilayah lain yaitu tepat berada di depan Kantor Bupati. Setelah disepakati barulah Pak Bupati melakukan pembebasan lahan,” ujarnya.

Monumen Kapsul Waktu sengaja diarahkan ke barat mata angin. Hal ini ditujukan sebagai simbol pandangan masyarakat Papua terhadap Indonesia.

Yori menyebut kapsul waktu tidak hanya sebagai penyimpan naskah cita-cita masyarakat Indonesia pada 2085, akan tetapi sebagai simbol pembangunan merata di seluruh negeri. Selain Yori, sejumlah architect in charge yang dilibatkan dalam proyek tersebut yaitu Inggita Saraswati, Nadya Azalia, Paskalis Khrisno dan Ryan Ridge.

 BISNIS

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Comments

0 comments

Musim Pancaroba Tiba, Waspadalah Penyakit Akibat Nyamuk

Bandara Jewel Changi Tawarkan Tur Gratis Bagi Penumpang yang Transit di Singapura