in ,

China Merilis Hasil Studi Terbesar Tentang Wabah COVID-19

Di Hubei, provinsi yang terkena dampak terburuk, tingkat kematiannya adalah 2,9% dibandingkan dengan hanya 0,4% di seluruh negara.

CakapCakapCakap People! Pejabat kesehatan di China telah menerbitkan rincian pertama tentang lebih dari 70.000 kasus virus corona atau Covid-19. Rincian itu diungkapkan lewat hasil studi terbesar sejak wabah itu dimulai.

Dilansir dari BBC News, Selasa, 18 Februari 2020, studi yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (Chinese Centre for Disease Control and Prevention (CCDC) menemukan bahwa lebih dari 80% adalah orang sakit dengan klasifikasi kasus ringan dan lansia yang paling berisiko terhadap Covid-19 ini.

Studi ini juga menunjukkan risiko tinggi bagi staf medis.

Temuan ini menempatkan tingkat kematian keseluruhan virus Covid-19 sebesar 2,3%.

Di Hubei, provinsi yang terkena dampak terburuk, tingkat kematiannya adalah 2,9% dibandingkan dengan hanya 0,4% di seluruh negara.

Seorang dokter memeriksa seorang pasien di Rumah Sakit Jinyintan, yang diperuntukkan bagi pasien virus corona kritis, di Wuhan, China pada hari Kamis, 13 Februari 2020. [Foto: Chinatopix via Associated Press]

Angka resmi terbaru China yang dirilis pada hari Selasa, 18 Februari 2020, menyebutkan angka kematian keseluruhan sebanyak 1.868 orang dan 72.436 terinfeksi.

Para pejabat mengatakan ada 98 kematian baru akibat Covid-19 dan 1.886 kasus baru dalam satu hari terakhir, 93 dari kematian itu dan 1.807 infeksi terjadi di provinsi Hubei — pusat wabah.

Lebih dari 12.000 orang diungkapkan telah pulih, menurut otoritas China.

Apa yang dikatakan penelitian ini kepada kita?

Hasil studi oleh CCDC yang dirilis pada hari Senin dan diterbitkan dalam Chinese Journal of Epidemiology, meneliti 72.314 kasus Covid-19 yang didiagnosis di seluruh China pada 11 Februari 2020, termasuk kasus dengan status dikonfirmasi, diduga, dan tanpa gejala.

Sementara pada hasil sebagian besar yang mengkonfirmasi deskripsi sebelumnya dari virus dan pola infeksi, penelitian itu mencakup rincian rinci dari 44.672 kasus yang dikonfirmasi di seluruh China.

Beberapa kesimpulan yang dicapai dalam studi ini antara lain:

  • Sebanyak 80,9% kasus infeksi diklasifikasikan ringan, 13,8% parah dan hanya 4,7% kritis.
  • Tingkat kematian tertinggi adalah terjadi pada orang berusia 80 tahun dan lebih tua, yaitu 14,8%.
  • Untuk anak-anak hingga usia 9 tahun, belum ada korban jiwa, dan hingga usia 39 tahun, tingkat kematian tetap rendah yaitu 0,2%.
  • Untuk kelompok usia berikutnya, tingkat kematian meningkat secara bertahap: Untuk orang-orang di usia 40-an sebesar 0,4%, di usia 50-an adalah 1,3%, di usia 60-an adalah 3,6% dan 70-an adalah sebesar 8%.
  • Melihat rasio jenis kelamin, pria lebih cenderung meninggal (2,8%) daripada wanita (1,7%).
  • Mengidentifikasi penyakit mana yang menempatkan pasien pada risiko, studi ini menemukan penyakit kardiovaskular nomor satu, diikuti oleh diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan hipertensi.

Sementara risiko untuk staf medis, jurnal studi itu mengatakan bahwa total 3.019 petugas kesehatan telah terinfeksi, 1.716 di antaranya adalah kasus yang dikonfirmasi dan lima orang yang meninggal pada 11 Februari 2020, yang merupakan hari terakhir dari data yang dimasukkan dalam penelitian.

Tren penurunan kurva epidemi’

Selanjutnya, makalah ini menemukan bahwa “kurva epidemi timbulnya gejala” memuncak sekitar 23-26 Januari 2020 sebelum  kemudian menurun hingga 11 Februari 2020.

Pada 13 Februari 2020, China memperluas definisi cara mendiagnosis orang, termasuk “kasus yang didiagnosis secara klinis” yang sebelumnya dianggap terpisah dari “kasus yang dikonfirmasi”.

Petugas kesehatan yang mengenakan pelindung mengevakuasi warga dari gedung perumahan umum di Hong Kong. [Foto: Tyrone Siu / Reuters]

Studi ini menunjukkan bahwa tren penurunan dalam kurva epidemi keseluruhan dapat berarti bahwa “isolasi seluruh kota, penyiaran informasi penting (misalnya, imbauan mencuci tangan, memakai masker wajah, dan mencari perawatan) dengan frekuensi tinggi melalui berbagai saluran, dan mobilisasi suatu tim tanggapan cepat multi-sektor membantu mengurangi epidemi “.

Tetapi penulis studi juga memperingatkan bahwa dengan banyak orang yang kembali dari liburan panjang, negara itu “perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan bangkitnya kembali epidemi”.

Atas wabah tersebut, China melakukan langkah mengisolasi Wuhan — kota terbesar di Hubei — dan provinsi lainnya serta pembatasan perjalanan yang ketat pada pergerakan di seluruh negeri.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Comments

0 comments

Google Donasi Rp1,3 Miliar untuk Didik 22.000 Guru di Indonesia, Ini Targetnya!

Wanita yang Berkualitas Itu Bergegas Move On dari Pria yang Sejatinya Tak Mencintainya