in ,

Mengenal Umoja Uaso, Desa Tanpa Pria yang Jadi Tempat Berlindung Para Wanita

Mata pencaharian wanita dari desa Umoja ialah menjual barang kerajinan tangan

CakapCakap – Apa Cakap People pernah mendengar mitos tentang wanita Amazon? Menurut cerita yang beredar, terdapat wilayah di pedalaman Hutan Amazon yang dihuni oleh wanita saja. Bahkan tiada satu pun pria dewasa yang diperbolehkan masuk ke sana.

Tampaknya, mitos yang beredar tersebut bukan isapan jempol semata. Sebab di Kenya, Afrika memang ada desa yang hanya dihuni oleh kaum wanita saja. Namanya adalah Desa Umoja.

Gagasan Awal Kemunculan Desa Umoja

Menjadi tempat berlindung bagi para wanita. Gambar via detik.com

Tempat tersebut juga dikenal dengan nama Umoja Uaso oleh masyarakat sekitar. Umoja artinya ‘persatuan’. Dalam Bahasa Swahili merupakan desa khusus perempuan yang dibangun oleh Rebecca Lolosoli pada tahun 90-an sebagai tempat berlindung untuk para survivor kekerasan.

Seperti wanita dan gadis muda yang melarikan diri dari upaya kawin paksa, khususnya mereka yang berasal dari Suku Samburu. Di masyarakat Samburu yang menganut patriarki, wanita merupakan warga kelas dua yang tidak diizinkan guna mempunyai tanah maupun properti lain seperti hewan ternak.

Bahkan suku tersebut juga sering dihadapkan pada budaya sunat perempuan, kekerasan seksual, kawin paksa dengan lelaki yang lebih tua, serta kekerasan domestik. Selain itu, wanita Samburu juga sering mengalami kasus pemerkosaan yang malah berujung pada kekerasan oleh suaminya. Sebab dianggap membawa aib dan penyakit.

Mereka pun akhirnya diusir dan memilih kabur dari rumah lantaran terancam akan dibunuh. Saat banyak wanita dalam kondisi tersebut dan tidak memiliki rumah atau harta, maka gagasan untuk mendirikan sebuah tempat di mana wanita dapat merasa aman dan bertahan hidup tanpa bergantung pada pria pun tercipta.

Pencetusnya Punya Pengalaman Pahit

Tinggal di rumah tradisional bernama manyata. Gambar via blogspot.com

Rebecca Lolosoli merupakan salah satu pencetus dari berdirinya Desa Umoja. Ia sendiri memiliki pengalaman pahit di desa kelahirannya. Lolosoli pernah membuka usaha jual-beli barang-barang. Namun suatu hari ia dirampok hingga dipukuli oleh 4 pria sampai masuk rumah sakit.

Penyerangan tersebut bukan didasari karena uang, melainkan Lolosoli dikenal sebagai wanita yang kerap menyuarakan hak-hak untuk kaum perempuan. Wanita yang lahir pada tahun 1962 silam tersebut dinikahkan di usia 18 tahun dengan maskawin 17 ekor sapi.

Saat suaminya sendiri tidak bisa melakukan apapun guna membelanya, maka Lolosoli yang keluar dari rumah sakit memilih untuk meninggalkan suami serta desanya. Ia kemudian membangun Desa Umoja bersama 15 perempuan lainnya.

Upaya Mencari Nafkah

Menjalani kehidupan yang mandiri. Gambar via dream.co.id

Awalnya wanita Umoja mencari nafkah dengan cara menjual kembali sayur-sayuran yang mereka beli dari pihak lain. Sebab mereka belum tahu cara bertani mandiri. Namun dikarenakan cara tersebut kurang berhasil, mereka akhirnya beralih menjual kerajinan tradisional Suku Samburu untuk para turis yang singgah ke desanya.

Usaha tersebut kemudian mendapatkan perhatian dari pihak Kenya Wildlife Service dan membuka peluang bagi wanita Umoja guna belajar dari suku yang lebih sukses seperti Maasai Mara. Bahkan pihak Kementerian Budaya Kenya juga turut membantu.

Kesuksesan tersebut memicu rasa iri pada sebagian pria yang lalu mendirikan desa di sekitar Umoja. Tujuannya untuk melakukan blokade ke turis yang berkunjung ke Umoja serta menjual kerajinan tangan mereka sendiri.

Bukannya menyurutkan semangat, hal tersebut malah menambah keinginan wanita Umoja. Alhasil desa-desa saingan tersebut berakhir dengan kegagalan. Bahkan para wanita Umoja membeli tanahnya guna memperluas wilayah mereka.

Wanita Umoja sendiri tinggal di rumah tradisional yang bernama manyata Cakap People. Mereka menggunakan pakaian tradisional serta aksesori suku Samburu. Desa tersebut menjadi tempat bernaung bagi wanita yang dibuang keluarganya atau yang kabur dari mereka. Ada pula anak yatim piatu dan terlantar.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Comments

0 comments

Jajak Pendapat Internasional: Warga Dunia Tidak Percaya pada Vaksin COVID-19 Buatan China dan Rusia

Inilah 4 Jenis Gempa Bumi Berdasarkan Penyebabnya, Kenali juga Cara untuk Berlindung