in ,

Gadis Cilik 12 Tahun Ini Menjadi Korban Meninggal Termuda di Eropa Akibat Virus Corona

Menurut beberapa pejabat Belgia, kondisi anak perempuan itu memburuk setelah mengalami demam selama tiga hari.

CakapCakapCakap People! Seorang anak perempuan berusia 12 tahun di Belgia meninggal akibat virus corona baru COVID-19 pada Selasa, 31 Maret 2020. Dia menjadi korban meninggal termuda di Eropa.

“Ini adalah peristiwa langka, tapi satu yang menghancurkan kami,” kata ahli virus Emmanuel Andre saat menghadiri konferensi pers harian Belgia tentang wabah COVID-19 pada Selasa, 31 Maret 2020, melansir Reuters.

Menurut beberapa pejabat Belgia, kondisi gadis cilik itu memburuk setelah mengalami demam selama tiga hari. Namun, mereka tak menjelaskan secara terperinci apakah dia memiliki kondisi medis sebelumnya atau tidak.

Seorang perawat menunggu di pintu masuk ruang pengujian untuk penyakit coronavirus (COVID-19) di Rumah Sakit Saint Michel di Brussels, Belgia, Jumat, 27 Maret 2020. [Foto: REUTERS/Yves Herman]

Sejauh ini Belgia memiliki 12.775 kasus COVID-19 dengan 705 korban jiwa. Sekitar 4.920 pasien dirawat di rumah sakit. Artinya, separuh dari kapasitas layanan medis telah diambil untuk kasus virus corona. Belgia memperkirakan penyebaran virus akan memasuki fase puncak dalam beberapa hari atau pekan mendatang.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, wabah virus corona baru COVID-19 belum akan usai di kawasan Asia dan Pasifik. Negara-negara Asia dan Pasifik diminta mempersiapkan diri menghadapi penularan masyarakat berskala besar.

“Biar saya perjelas, epidemi ini masih jauh dari selesai di Asia dan Pasifik. Ini akan menjadi pertempuran jangka panjang dan kita tidak bisa mengecewakan penjaga kita,” kata Direktur Regional Pasifik Barat WHO Takeshi Kasai, Selasa, 31 Maret 2020.

Ilustrasi COVID-19. [Foto: CNN]

Menurut dia, dengan semua tindakan yang telah diambil, risiko penularan di kawasan Asia dan Pasifik tidak akan hilang selama pandemi berlanjut. “Kami membutuhkan setiap negara untuk terus mempersiapkan transmisi komunitas skala besar,” ucapnya.

Kasai mengatakan, negara-negara dengan sumber daya terbatas, seperti negara di Kepulauan Pasifik, menjadi prioritas. Pasalnya, mereka harus mengirim sampel ke negara lain untuk diagnosis. Pembatasan transportasi membuat hal itu makin sulit dilakukan.

Sementara itu, negara-negara yang telah melihat pengurangan kasus tidak boleh lengah. Kasai memperingatkan bahwa virus mungkin datang kembali.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Comments

0 comments

Mata-Mata AS: Bukti Virus Corona di China, Rusia dan Korea Utara Sulit Dipetakan

COVID-19: Dubai Menjadi Kota Pertama di UAE yang Terapkan Lockdown