in ,

“Bukan Hujan Biasa”: Inilah Sebab Banjir Besar di Jakarta dan Sekitarnya

Hujan tersebut adalah hujan dengan curah tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

CakapCakapCakap People! Jakarta pada Selasa malam, 31 Desember 2019,  mengalami curah hujan terburuk dalam lebih dari satu dekade, dengan hujan lebat mengguyur kota tersebut tanpa henti hingga Rabu pagi, 1 Januari 2019, menyebabkan banjir hebat di ibu kota dan kota-kota satelitnya pada hari pertama tahun 2020.

Dilansir dari The Jakarta Post, Kamis, 2 Januari 2020, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat intensitas hujan pada Malam Tahun Baru pada 377 milimeter per hari, menurut pengamatan yang dilakukan di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur.

Ilustrasi banjir. [Foto: Pixabay]

Sementara itu, pengamatan di Taman Mini Indonesia Indah, juga di Jakarta Timur, dan Jatiasih di Bekasi mencatat intensitas hujan masing-masing 335 dan 259 mm per hari.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi di kota tersebut sejak 2007, ketika intensitas curah hujan mencapai 340 mm per hari.

Intensitas curah hujan Jakarta rata-rata selama banjir besar

Intensitas curah hujan yang dicatat pada 31 Desember 2019 dianggap yang tertinggi yang pernah terjadi di Jakarta dibandingkan tahun-tahun lain ketika banjir besar terjadi di ibu kota.

“Hujan yang turun pada Malam Tahun Baru di bagian barat dan utara Jawa sangat ekstrim dan memicu banjir di [Jabodetabek] dan Cikampek [di Jawa Barat]. Hujan ini bukan hujan biasa, ” kata BMKG dalam sebuah pernyataan tertulis.

BMKG mengatakan bahwa intensitas curah hujan yang hampir mencapai rekor tertinggi adalah karena beberapa faktor, termasuk terjadinya musim hujan. 

Menurut Met Office Inggris, iklim muson ditandai oleh “perubahan musiman dramatis dalam arah angin yang berlaku di suatu daerah yang membawa perubahan nyata dalam curah hujan”.

“Angin yang bergerak dari timur laut Pulau Jawa bertemu dengan angin lain yang bertiup dari selatan pulau. Pertemuan semacam itu telah menyebabkan pembentukan awan besar-besaran di langit di atas Pulau Jawa,” kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Fachri Radjab, dalam sebuah video yang diunggah di akun YouTube resmi BMKG.

Ia menambahkan bahwa kondisi cuaca telah diperparah oleh tingginya jumlah uap air yang disebabkan oleh suhu tinggi Samudra Hindia, terutama di daerah selatan Pulau Jawa. “Uap air kemudian mempengaruhi formasi awan di Jawa,” kata Fachri.

BMKG memperkirakan hujan lebat akan terus berlanjut di Jabodetabek hingga Sabtu sebagai akibat dari kondisi atmosfer. 

Duh! Mitsubishi Bakal Mulai Hentikan Produksi Mesin Diesel

Banjir, Inilah Penyakit Menular dari Urin Tikus yang Harus Kamu Waspadai