in ,

Presiden Jokowi Tunjuk Tiga Tokoh Dunia Ini jadi Dewan Pengarah Ibu Kota Baru, Simak Alasannya!

Ketiga tokoh tersebut juga tidak akan digaji saat menjadi Dewan Pengarah Ibu Kota nantinya.

CakapCakapCakap People! Proses pembangunan untuk Ibu Kota baru terus berlanjut. Kini, perhatian publik sedang mengarah pada penunjukkan tiga tokoh dunia yang akan dilibatkan dalam pembangunan Ibu Kota baru nantinya. 

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo sudah menunjuk tiga tokoh dunia untuk menjadi anggota Dewan Pengarah dalam pembangunan Ibu Kota Negara baru di Kutai Kertanegara dan Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur. 

View this post on Instagram

Saya tiba di Uni Emirat Arab kemarin sore dan mendapatkan sambutan yang hangat dari Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed bin Zayed di Istana Qasr Al Watan. Hari ini, saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan pidato kunci pada forum Abu Dhabi Sustainability Week. Melalui forum ini, saya mengundang dunia untuk berinvestasi dengan membawa teknologi terbaik, inovasi terbaik, dan kearifan terbaik di ibu kota negara Republik Indonesia yang baru.

A post shared by Joko Widodo (@jokowi) on

Tiga tokoh tersebut adalah Putra Mahkota Abu Dhabi Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), CEO Softbank Masayoshi Son, dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. 

Apa alasan Presiden Jokowi menunjuk tiga tokoh itu?

Presiden Jokowi mengatakan bahwa penunjukan ketiga tokoh tersebut adalah untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan dari dunia internasional. Dengan meningkatnya kepercayaan internasional atas keterlibatan tiga tokoh itu, Jokowi meyakini bahwa investasi bakal masuk dan mengalir ke Ibu Kota yang baru.

“Karena kita ingin bangun sebuah kepercayaan, sehingga dari kepercayaan yang terbangun akan memudahkan kita untuk nanti melakukan kerja bersama, KPBU [Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha], kerja sama PPP [Public Private Partnership], kerja sama lainnya yang akan segera kawasan ini bisa segera diselesaikan. Karena saya melihat beliau-beliau ini MBZ, Masayoshi Son, kemudian Tony Blair adalah person-person yang memiliki reputasi yang baik di dunia internasional. Nantinya memang kita yang menyelesaikan operasional persoalan-persoalan yang ada di lapangan,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020, seperti dilaporkan VOA Indonesia.

View this post on Instagram

Selamat pagi. Saya tiba di Uni Emirat Arab kemarin, disambut dengan begitu ramah dan meriah oleh Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed bin Zayed di Istana Kepresidenan Qasr Al Watan. Seusai penyambutan resmi — upacara, dentuman meriam 21 kali, kumandang lagu Indonesia Raya, dll — saya dan Putra Mahkota menggelar pertemuan bilateral. Saya mengapresiasi kemajuan yang signifikan dalam hubungan kerjasama antara Indonesia dan UEA. Semalam, telah ditandatangani lima perjanjian kerja sama antarpemerintah di bidang keagamaan, pendidikan, pertanian, kesehatan, dan penanggulangan terorisme. Selain itu, ada 11 perjanjian bisnis di bidang energi, migas, petrokimia, pelabuhan, telekomunikasi, dan riset. Perkiraan nilai investasi dalam perjanjian ini sebesar US$ 22.89 miliar atau sekitar 314,9 triliun rupiah. Saya juga menyampaikan bahwa Indonesia ingin menjadikan UEA sebagai mitra dalam pendidikan Islam yang modern, moderat dan penuh toleran.

A post shared by Joko Widodo (@jokowi) on

Lebih lanjut, Jokowi menyebutkan bahwa ketiga tokoh tersebut akan berpartisipasi membangun fasilitas pendukung di Ibu Kota Negara baru ini, selain gedung-gedung pemerintahan yang 100 persen akan didanai dari APBN.

“Ada klaster pemerintahan yang 100 persen akan dibangun oleh APBN. Klaster kesehatan di situ banyak RS, klaster pendidikan ada sekolah dari SD, SMA, dan Universitas yang kelas dunia. Ada klaster inovasi di mana talenta-talenta muda akan berkumpul dan melakukan riset maupun inovasi untuk kemajuan negara. Ada klaster hiburan dan terakhir ada klaster financial center. Selain itu kendaraan yang ingin kita pakai di sana, ini gagasan besarnya adalah transportasi massalnya electric vehicle autonomous. Kendaraan pribadi nanti juga electric vehicle dan autonomous,” jelasnya.

View this post on Instagram

For me, the festive period is a great opportunity to rest, recharge and read. I always enjoy discovering new books at this time of year, as well as being able to pick up some old favourites. Here are a few of the books I’ve enjoyed reading recently, plus a couple of long-standing favourites which I hope you will like too. TB Seamus Heaney’s 100 Poems. Fantastic, deceptively simple and evocative writing – anyone with an Irish interest will especially find these poems a worthwhile read. The Lady in Gold by Anne Marie O’Connor. This book is one of the best descriptions of pre-Holocaust Austria and shows in a direct and compelling way how a normal, artistically interested and successful society suddenly turned into a thing of terror for its Jewish community. Raquel, The Jewess of Toledo: A Spanish Ballad by Lion Feuchtwanger. Almost completely forgotten today but this book is a great read. Written in the 1950s, it is a story of love across faith boundaries set in medieval Spain. The Hijaz by Malik R. Dahlan. The Hijaz is an insightful history of a religiously important part of Saudi Arabia and shows, through history on the ground, the hopes and challenges for the future. Factfulness: Ten Reasons We're Wrong About The World – And Why Things Are Better Than You Think by Hans Rosling. This book tackles the idea that there’s not much good in the world today. Its thesis is that if you take a step back from the day-to-day and look at the arc of human progress, there’s actually been much change and progress over the last half-century, which we can all feel optimistic about. The Pickwick Papers by Charles Dickens. This is a real favourite of mine. It’s such a funny book and in fact precursor for much of our modern British humour – in particular the iconic Monty Python series. I hope you enjoy these books as much as I have! Please do share your thoughts on them too, along with any others that you’ll be picking up over the festive period.

A post shared by Tony Blair Institute (@institutegc) on

Jokowi juga meyakinkan bahwa meskipun melibatkan ketiga tokoh itu sebagai anggota dewan pengarah, ia memastikan bahwa pemerintah sama sekali tidak berutang kepada pihak asing tersebut. Diungkapkannya bahwa pemerintah akan melakukan mekanisme bentuk kerja sama dan tidak akan menggaji para anggota dewan pengarah tersebut.

“Yang kita tawarkan tidak pinjaman, tidak ada government guarantee. Enggak ada. Jadi semua kerja sama,” tegas Jokowi.

Lalu, apa imbalan atau keuntungan yang diperoleh ketiga tokoh tersebut sebagai anggota Dewan Pengarah Ibu Kota?

CEO Softbank Jepang, Masayoshi Son. [Foto: Forbes]

Jokowi menyebutkan bahwa pemerintah sama sekali tidak memberikan imbalan apa pun. Menurutnya, keuntungan yang dipilih oleh ketiga tokoh tersebut adalah sebuah penghargaan karena telah ikut membangun sebuah Ibu Kota Negara baru di Indonesia yang merupakan sebuah negara yang cukup besar.

Selain ketiga tokoh itu, Presiden Jokowi sejauh ini belum memiliki rencana untuk menambah anggota Dewan Pengarah, meskipun ada tokoh besar lainnya yang ingin bergabung.

Kerajaan Aneh yang Pernah Berdiri di Indonesia, Bikin Resah Warga

Menurunkan Berat Badan Ternyata Juga Bisa Kurangi Risiko Kanker Payudara Lho!