in ,

BMKG Ungkap Gempa Ambon Diduga Terkait Susunan Tektonik Kompleks

Gempa mengguncang Ambon dan sekitarnya pada Kamis, 26 September 2019, dan menelan 30 korban jiwa.

CakapCakapCakap People! BMKG mengungkapkan hal terkait mengenai gempa yang terjadi di Kota Ambon, Kairatu, Haruku, dan Masohi di Provinsi Maluku.

Gempa magnitudo 6,5 SR yang mengguncang Ambon, Kairatu, Haruku, dan Masohi, Provinsi Maluku diduga berkaitan dengan susunan tektonik kompleks di daerah tersebut, ungkap Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono.

View this post on Instagram

Provinsi terbahagia ke 2 di Indonesia, anak2 bebas bermain, smw orang toleransi, tatawa bebas, bahkan tatawa akang ada beberapa model salah satunya pake eeeee d blakang, Maluku The best.. đź’Şđź’Şđź’Şđź’Ş #malukuisland #maluku #indonesia_fotography #wonderfulindonesia #indonesia_fotografi #indonesia #kotaambon #barondaambon #human_interest #human #humanity #people_infinity #people #1000kata #maklumfoto #instanusantaraamboina #instatravel #instanusantara #geonusantara #geomaluku #motoyuk #nikonindonesia #kompastv

A post shared by Buchari M (@buchari_m) on

“Kawasan ini memang memiliki tatanan tektonik yang kompleks. Ada beberapa unsur tektonik di wilayah ini, yaitu Sesar Sorong, Sesar Buru, Sesar Tarera Aiduna, dan Seram Through,” ungkap dia dalam rilis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Kemungkinan besar, ujarnya, pembangkit gempa di Ambon, Kairatu, Haruku, dan Masohi berkaitan dengan aktifnya salah satu struktur sesar di wilayah tersebut.

Daryono merujuk kepada karya tulis ilmiah “Tectonic evolution of North Seram Basin, Indonesia, and its control over hydrocarbon accumulation conditions” karya Zhugang dkk (2016) sebagai petunjuk sumber pembangkit gempa di Maluku tersebut.

Dia menjelaskan dalam karya tulis tersebut disebut “Kawa Strike-Slip Fault Belt” atau Jalur Sesar Mendatar Kawa yang diduga memiliki kaitan dengan gempa yang terjadi pada 26 September itu, karena episenter gempa utama terletak tepat di jalur sesar itu.

Mekanisme sesar itu, ujarnya, sesar geser mengiri atau “sinistral strike-slip” yang terbentuk karena adanya perubahaan dari gaya tekan ke gaya geser (strike-slip) akibat pergerakan dari sistem “Tarera Aiduna Strike-Slip Fault Belt” atau Jalur Sesar Tarera-Aiduna di sebelah timur yang menerus ke Papua.

Peta tektonik wilayah gempa Ambon (Dokumen BMKG)

“Mekanisme sesar ini ternyata sesuai dengan mekanisme sumber gempa utama hasil analisis BMKG yang juga berupa sesar geser mengiri (sinistral strike-slip),” tegas Daryono.

Gempa mengguncang Ambon dan sekitarnya pada Kamis, 26 September 2019, dan menelan 30 korban jiwa serta menyebabkan ratusan lainnya luka-luka, menurut data terakhir yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Hingga Minggu, pukul 10.00 WIB, BMKG mencatat terjadi 613 kali aktivitas gempa susulan dengan 72 di antaranya dirasakan masyarakat.

KANTOR BERITA ANTARA

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Comments

0 comments

Lima Alasan yang Menyebabkan Mimisan pada Orang Dewasa

Karakter Pembantu Utama Ikonik Cinderella Ini Akan Dibuat Film Live-Action nya?