in

Kecewa Hasil SBMTPN, Gadis Asal Pinrang Ini Malah Lolos Seleksi Kedokteran di Cina

Semangat, jangan patah semangat, tetap berusaha dan berdoa, karena Tuhan kasih apa yang kita butuhkan, bukan apa yg kita inginkan.” -Karina Dinda Lestari, 23 Tahun, Mahasiswi Kedokteran College of International Education Liaoning Medical University, Cina-

CakapCakap – Sebuah pepatah lama mengatakan ; “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”. Rasanya ungkapan inilah yang menjadi salah satu pemicu motivasi salah seorang siswi ini setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya.

Gadis yang berasal dari kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini memilih untuk melanjutkan jenjang pendidikan tingginya di luar negeri setelah melewati pendidikan masa SMA.

Foto : Dok. Pribadi-Karina Dinda Lestari.

Dialah Karina Dinda Lestari atau lebih akrab disapa dengan Karina ini memilih negeri Cina sebagai  tempat untuk menuntut ilmu dengan mengambil jurusan Kedokteran.

Karina memilih salah satu universitas yang ada di Cina, setelah dirinya mengaku tak puas dengan hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Ia kecewa saat mengetahui dirinya hanya lulus seleksi pada pilihan kategori kedua yaitu Jurusan Hubungan Internasional. Sementara, ia sangat berharap bisa lulus pada pilihan pertamanya yaitu Jurusan Kedokteran.

Dengan inisiatif sendiri, ia akhirnya mencari program kuliah di luar negeri dengan jurusan kedokteran yang dia inginkan. Karina mendapatkan sejumlah informasi diantaranya di Jerman, Mesir dan Cina. 

Foto : Dok. Pribadi-Karina Dinda Lestari.

Anak pasangan Hj. Hariyani dan Ir.H. Ferdy Tuhulele ini akhirnya menjatuhkan pilihan untuk mengambil kedokteran di Cina. Untuk bisa lulus di fakultas kedokteran tersebut, Karina pun harus mengikuti seleksi seperti penerimaan mahasiswa baru di kampus-kampus lain, sebelum akhirnya ia dinyatakan diterima sebagai mahasiswa.

Alumni terbaik SMA Negeri 11 Unggulan Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini berhasil lulus seleksi di College of International Education Liaoning Medical University, Cina.

Ia menggunakan waktunya menunggu hasil seleksi dengan belajar bahasa mandarin untuk memudahkannya berkomunikasi. Seperti diketahui, bahasa mandarin juga merupakan bahasa pengantar yang digunakan di Cina, selain bahasa asing lainnya.

Foto : Dok. Pribadi-Karina Dinda Lestari.

Negeri “Tirai Bambu” yang masih merupakan rumpun asia dan pertimbangan biaya hidup yang masih terjangkau, menjadikannya memilih Cina sebagai negara untuk mewujudkan impiannya menempuh pendidikan kedokteran.

Momen lebaran di Indonesia tampaknya tak bisa ia rayakan bersama keluarga. Karina harus mengikuti ujian kuliah kedokterannya di kampus, yang waktunya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Biasanya, anak sulung dari dua bersaudara ini memanfaatkan libur semesternya, setahun dua kali untuk berkumpul bersama keluarganya di Indonesia.

Tidak mudah bagi Mahasiswa angkatan 2015 ini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan terutama cuaca yang sangat berbeda musim dengan Indonesia ini. Cina melewati empat musim, bahkan ketika musim dingin mulai menyapa, cuaca dingin bisa mencapai minus 20 derajat.

Foto : Dok. Pribadi-Karina Dinda Lestari.

Namun, impiannya menempuh pendidikan kedokteranlah yang menguatkannya untuk tidak mengeluh dengan berbagai tantangan yang dihadapinya selama berkuliah di Cina. Saat ditanya kesempatan untuk menuntut ilmu lanjutan, Karina mengaku lebih senang melanjutkan jenjang pendidikan S2-nya kelak di negara yang berbeda lagi.

“Semangat, jangan patah semangat, tetap berusaha dan berdoa, karena Tuhan kasih apa yang kita butuhkan bukan apa yg kita inginkan,” begitu pesan Karina menutup perbincangan tentang impiannya yang akhirnya terwujud di fakultas kedokteran, Cina.

Jurnalis: Nur Atika (Mahasiswi Jurusan Jurnalistik-Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Alauddin Makassar)

Editor: Siti Nurhajaiti Sunarto

Dukung Ekosistem Startup Indonesia, Amazon Bangun 3 Data Center di Jakarta

Selamat! 17 Millennial Indonesia Berhasil Masuk Daftar Pemuda Tersukses Versi Forbes