in ,

Kisah Pilu Nenek Indo Tuo di Bone yang Tinggal di Gubuk Reyot

Tak semua orang bisa menikmati taraf hidup layak. Di banyak wilayah di Indonesia, terutama di daerah terpencil masih banyak penduduk yang tinggal jauh di bawah garis kemiskinan. Lebih pilu lagi karena nyaris sepertiga dari angka tersebut merupakan mereka yang sudah berusia senja. Indo Tuo, seorang nenek renta berumur 65 tahun yang tinggal di Dusun Pattiongi, Desa Abumpungeng, Kecamatan Cina, Bone, Sulawesi Selatan salah satunya.

Sudah cukup lama Indo Tuo tinggal di sebuah gubuk reyot. Rumah panggung berukuran 1,5 x 3 meter tersebut ditinggali Indo Tuo bersama dengan anak perempuan semata wayangnya. Tang (30), sang anak perempuan sendiri memiliki keterbelakangan mental ditambah dengan trauma setelah mengalami pemerkosaan. Jadilah, ibu anak tersebut tinggal berdua dengan keadaan yang sangat memprihatikan.

Dikisahkan oleh salah satu tetangga Indo Tuo, Kurniati, Tang menjadi tanggungan sang ibu sedari kecil. Dulunya Indo Tuo bekerja dengan mengumpulkan daun di sekitar rumahnya yang kemudian dijual kepada warga untuk alas ikan. Namun saat ini di usianya yang sudah lanjut, Indo Tuo sudah tak sanggup berjualan. Bahkan sang nenek sudah kesulitan untuk berjalan jauh.

Tang sendiri meskipun mengalami keterbelakangan mental kadang-kadang masih bekerja. Ia sering diminta tetangga sekitar untuk membantu memanen biji cokelat. Ketika musim panen tiba, Tang pun sering diajak oleh tetangga untuk memanen padi atau pun cabe di ladang. Dari pekerjaan tersebut Tang bisa mendapatkan upah antara 5 hingga 10 ribu per harinya.

Kurniati menyebut bahwa sebenarnya nyaris semua warga kampung memiliki hubungan saudara dengan Indo Tuo. Namun sang nenek menolak untuk diajak meninggalkan gubuk reyotnya dan tinggal bersama mereka. Walau pun beberapa warga sering juga akhirnya membawakan makanan untuk Indo Tuo dan Tang.

“Di kampung ini sebenarnya semua punya hubungan keluarga sama Indo Tuo, tapi dia tidak mau diajak tinggal serumah, mungkin karena dia tidak mau dianggap menyusahkan, jadi kami buatkan rumah kecil saja seperti itu dan kerap membawakan makan,” ungkap Kurniati.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Gemar Travelling? Intip 5 Lokasi Wisata Instagramable di Sulsel

Jaga Warisan Budaya, Bengkel Kecapi Yusri Go Internasional